Archive for the Jurnalisme Category

Soeharto, alamak….

Posted in Jurnalisme on Januari 29, 2008 by ikaning

Minggu ( 27 Januari 2008), jam 13.00 WIB, saya sudah berada di belakang komputer kantor mengerjakan beberapa ficer yang telah disetor reporter. Sepuluh menit kemudian, Fanny -salah satu penyiar di Radio VIS, mengumumkan atas kematiaan Soeharto yang ia tahu dari Metro TV. Saya sedikit terkejut mendengar berita itu, lalu bangkit dari kursi menuju studio, menyimak reportase  Metro TV.

Wajah terkejut dan panik  nampak dari  kru siar Metro TV.  Sama seperti kesibukan dan kepanikan seisi rumah sakit Pusat Pertamina (RSPP) yang merawat mantan penguasa Orde Baru selama 24 hari itu.

Akhirnya saya memutuskan untuk merelay Metro TV, selama hampir 60 menit pada jam 14.00 WIB – 14.45 WIB, dan jam 17.00 WIB – 17.45 WIB.  Format siaran berubah. Bila biasanya tiap jam merelay Metro TV untuk program Headline News, hari Minggu kemarin terpaksa ditiadakan. Karena seharian itu Metro TV menurunkan liputan meninggalnya Soeharto dalam program Breaking News.

Saat duduk kembali di depan komputer, beberapa teman menyapa melalui yahoo mesengger, menanyakan gimana pendapat saya atas meninggalnya Soeharto.

Saya jawab singkat, “Ah biasa saja. Sudah takdirnya,hehehe..,”

Hebohnya Soeharto meninggal masih berlanjut di hari kedua, Senin (28/01). Saat Saya memandu program Radio Bincang Kota Banyuwangi Pagi jam 06.00 – 08.00 WIB, Metro TV masih menurunkan liputan persiapan pelepasan jenasah Sang Jenderal berbintang lima itu. Agenda relay terpaksa ditiadakan lagi, karena Metro TV tidak ada Headline News.

Masih hangatnya berita meninggalnya Soeharto, Saya turunkan sebagai topik Radio Bincang Kota Banyuwangi Pagi sessi kedua. Sekaligus, Saya ingin menilai bagaimana komentar masyarakat Banyuwangi atas sosok The Smiling Jenderal ini.

Luar biasa ! Opini positif masih melekat di hati pendengar yang berpartisipasi di acara Saya. Soeharto, meski sudah meninggal kini, masih dielu-elukan sebagai seorang pahlawan yang patut ditauladani.

Coba simak komentar Indra, warga Kecamatan Genteng, “Saya dan keluarga shalat Gaib, mbak, untuk mendoakan semoga Pak Harto tenang di alam sana. Karena selama kuliah tahun 1990 saya sempat merasakan beasiswa Supersemar dari Beliau. Selama kepemimpinan Pak Harto, Indonesia lebih baik. Anak-anak sekolah dikasih beasiswa, harga-harga lebih murah. Jadi Maafkan bila ada kekurangan Pak Harto”

Lalu ada yang telepon lagi, namanya Yudi, warga Kecamatan Tegaldlimo. “Setiap pemimpin pasti punya kekurangan dan kelebihan. Di tangan Pak Harto, negara ini lebih stabil, eknomi jauh lebih baik dibanding saat ini. Kalau orang ngomong Pak Harto gak bisa dijerat korupsi, ya salahkan aparat hukumnya dong, yang gak bisa bekerja. Toh, yang korupsi itu kan anak buahnya Pak Harto semua”

Padahal Saya dan teman duet saya mencoba memaparkan bagaimana dibalik kestabilan yang diciptakan Soeharto saat masih berkuasa. Mulai kebebasan pers yang terkekang, Peristiwa Malari yang menandai pembungkaman aktivis, penyumbatan partai politik, besarnya utang negara, warisan korupsi yang membabi buta.

“Sudahlah, Maafkan Soeharto. Untuk apa mengingat-ingat keburukannya, diambil kebaikannya saja. Ekonomi bisa stabil, keamanan terkendali,” begitu komentar berikutnya dari Agus asal Kecamatan Muncar.

Acara Radio kuakhiri dengan kalimat, “Selamat jalan Soeharto, semoga penegakan hukum di Indonesia tidak tebang pilih, dan korupsi bisa diberantas…”.

Saat keluar dari kantor untuk liputan ke Kantor DPRD Banyuwangi, Bendera Merah Putih setengah tiang sudah terpangsang di sepanjang jalan, menandai Hari Berkabung Nasional sudah dimulai.

Dan sorenya saat mengedit berita, saya membaca berita yang diperoleh reporter, mengenai doa bersama untuk Soeharto yang digelar warga Desa Bulusan, Kecamatan Kalipuro.

Lengkaplah sudah bukti-bukti, nama besar Soeharto selama 32 tahun masih punya pengaruh yang besar. Bukan hanya di Jakarta dan Solo yang diturunkan melalui liputan seluruh media TV Nasional seharian penuh, tapi juga di ujung timur Pulau Jawa ini.

Iklan

AJI Jember soal Surat Edaran Sekda Banyuwangi

Posted in Jurnalisme on Oktober 19, 2007 by ikaning

AJI Jember soal Surat Edaran Sekda Banyuangi
12 Sep 2007

Aliansi Jurnalis Independen
The Alliance of Independent Journalist
AJI JEMBER
Office : Jl. Nanas VIII/3 Jember – Jawa Timur 68118

No : B.25/ADV/AJI-Jbr/IX/07
Lamp. : –
H a l : Pernyataan Sikap

Kode Etik Jurnalistik yang berlaku di Indonesia dibuat dan disepakati untuk dilaksanakan oleh seluruh jurnalis. Selain mengatur etika jurnalis dalam melaksanakan tugasnya, kode etik juga menjamin dan melindungi masyarakat mendapatkan informasi yang benar dan seimbang tanpa ditutup-tutupi.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Sekretaris Kabupaten telah menerbitkan Surat Edaran No. 300/646/429.032/2007 yang di dalamnya mengatur tentang tata cara penyampaian informasi dari Pemkab Banyuwangi kepada para jurnalis. Surat edaran itu berisi tentang kebijakan pemerintah kabupaten Banyuwangi yang menerapkan prinsip satu pintu untuk penyampaian informasi dari pemkab kepada para jurnalis yang melaksanakan tugasnya.

Dalam pelaksanaannya, kebijakan tersebut telah benar-benar menghilangkan ruang kepada para jurnalis untuk mendapatkan informasi dari narasumber secara langsung, khsususnya kepada para pejabat dan pegawai pemkab yang terkait langsung dengan informasi yang disampaikan. Akibatnya, keinginan publik untuk mendapat informasi secara seimbang dan proporsional tidak pernah bisa dipenuhi. Dalam hal ini, asas transparansi dalam iklim demokratisasi yang sudah dibangun telah ternodai.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jember sebagai salah satu organisasi profesi atau wadah para jurnalis untuk mengembangkan kebebasan pers, profesionalisme dan kesejahteraan melihat pemberlakuan surat edaran tersebut sebagai ancaman atas keberlangsungan demokrasi.

Untuk itu AJI Jember menyatakan sikap sebagai berikut:
Mengecam pemberlakuan Surat Edaran Sekretaris Kabupaten No.300/646/429.032/2007 karena tidak memberikan ruang kebebasan kepada publik untuk mendapatkan informasi yang proporsional.
Mengecam intervensi dan sensor yang dilakukan pemerintah kabupaten Banyuwangi kepada narasumber langsung melalui pemberlakuan surat edaran tersebut.
Mendesak Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Bupati Banyuwangi, Ratna Ani Lestari atau Sekretaris Kabupaten, Sukandi untuk mencabut kembali Surat Edaran Sekretaris Kabupaten No.300/646/429.032/2007, agar tercipta iklim kebebasan pers dan kebebasan publik mendapatkan informasi yang seimbang.
Mendesak kepada Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk menjamin kebebasan pers dan kebebasan publik mendapatkan informasi tanpa adanya intervensi.
Mendukung upaya semua jurnalis di Banyuwangi untuk tetap berpedoman pada UU nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, dan Kode Etik Jurnalistik dalam memperoleh dan menyampaikan informasi kepada publik.

Jember, 12 September 2007

Ketua AJI Jember
Mahbub Djunaidy

Koordinator Divisi Advokasi,
M. Dawud

Tembusan:
1. Ketua Dewan Pers, Bpk. Ichlasul Amal
2. Menteri Komunikasi dan Informasi RI, Bpk. Mohammad Nuh
3. Ketua Umum AJI-Indonesia, Heru Hendratmoko
4. Arsip

(www.ajiindonesia.org)