ANSIPOL: 30% Keterwakilan Perempuan, Plus Sanksi

Jurnalis Kontributor: Gadis Ranty

Jurnalperempuan.com-Jakarta. Kali ini perempuan tidak ingin kecolongan lagi. Perjuangan perempuan untuk menempatkan perwakilannya di parlemen (DPR, DPD, dan DPRD) sudah mencapai tahap penggalangan suara dukungan melalui sms ke 9123, untuk adanya keterwakilan para perempuan potensial. Semangat inilah yang terlihat pada konferensi pers yang berlangsung di Jakarta Media Center, Selasa (9/10).

Melalui Aliansi Masyarakat Sipil untuk Revisi Undang-Undang Politik (ANSIPOL) yang terdiri dari lembaga atau organisasi dan individu yang secara bersama-sama melakukan advokasi untuk revisi paket UU Politik, advokasi ditargetkan kepada empat fokus. Pertama, penguatan jaminan hukum keterwakilan perempuan minimum 30% sebagai tindakan khusus sementara (TKS) dalam rekrutmen keanggotaan, kaderisasi dan kepengurusan parpol, daftar calon legislatif serta pimpinan dan alat kelengkapan dewan. Sebagaimana dijelaskan pula oleh Ani Soecipto dari GPPI (Gerakan Perempuan Peduli Indonesia), “Perjuangan kali ini kita melihat bahwa lima tahun terakhir dalam perkembangannya pasal itu (pasal 65 ayat (1) UU Pemilu), banyak sekali kelemahannya yang ingin kita perkuat dalam revisi yang saat ini berlangsung.”

Sebagai tambahan, selain memperkuat Pasal 65 dengan mekanisme yang lebih imperatif (dengan sanksi) disertai dengan beragam klausul-klausul lain yang bisa mendongkrak perempuan pada Pemilu 2009 mendatang, ANSIPOL juga melakukan advokasi untuk revisi UU Partai Politik. Ibaratnya strategi yang dipakai adalah pengamanan terhadap UU Partai politik dan UU Pemilu agar keterwakilan perempuan itu dapat terwujud. Setidaknya, perempuan dapat dinominasikan sebagai pengurus dalam jumlah sekurang-kurangnya 30%. Kedua, tuntutan yang diajukan oleh ANSIPOL selain revisi pada kedua UU Politik adalah pada penyusunan daftar calon legislatif dengan model zig-zag (selang-seling antara perempuan dan laki-laki). Usulan pencalonan semacam itu akan melengkapi gagasan afirmatif sebagai tindakan khusus sementara (TKS) perempuan sekurang-kurangnya 30% dalam pencalonan legislatif di berbagai tingkatan dan 30% perempuan sebagai pengurus di partai politik berbagai tingkatan.

Ketiga, adanya pilihan sistem pemilu yang dapat lebih mendorong akuntabilitas calon terpilih dan mendorong peningkatan keterwakilan perempuan dalam pengambilan kebijakan publik. Sistem proporsional terbuka pada pemilu tahun 2004 lalu dengan nomor urut, teruji tidak menguntungkan perempuan. Endang Sulastri sebagai satu dari tiga anggota perempuan di Komisi Pemilihan Umum menyatakan, “Hasil kemarin belum 30% karena perempuan masih ada di nomor urut bawah.” Menurutnya, kita harus mendesak partai politik bahwa adanya proporsi 30% perempuan itu, perempuan ditempatkan di nomor jadi. Setidaknya 30% ada di nomor jadi.

Terakhir, ANSIPOL juga menginginkan adanya penetapan daerah pemilihan dan penetapan alokasi kursi yang lebih menjamin asas proporsionalitas dan peningkatan keterwakilan perempuan. Sebagaimana juga diharapkan kita bersama, seperti disebutkan oleh Yuda Irlang dari GPSP (Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan), “Semoga tiga perempuan itu (di antaranya adalah Endang Sulastri dan Nurhayati dari LIPI) dapat memilih daerah pemilihan yang ramah perempuan.”

Terlepas dari optimisme terhadap keterwakilan perempuan dalam politik, oleh ANSIPOL ini, ada beberapa hambatan. Yakni, sistem pemerintahan yang masih berbau paternalistik, indikasi ketertutupan dalam panitia kerja (PANJA) yang tidak konsisten dengan adanya Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU), serta kebingungan penerapan basis verifikasi amandemen undang-undang politik yang baru untuk partai politik yang sudah ada dari tahun 2005 ataukah untuk partai politik yang berada dari tahun 2009-2014.

Kendati demikian, ANSIPOL harus terus maju dengan dukungan semua komponen masyarakat sipil. Kesuksesan keterwakilan perempuan tak hanya otomatis mengandalkan ANSIPOL, tapi juga kualitas wakil perempuan di parlemen yang berideologi perempuan yang membela kaumnya.*

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: